Jumat, 29 April 2011

Sejarah Manis Sepakbola Indonesia, Klub Lokal Mengalahkan Arsenal 2-0


Dulu, tim nasional PSSI sering kebanjiran tamu hebat. Mulai dari Dinamo Moskow dengan Vladimir Bubukin-nya, Santos dengan Pele-nya, tim nasional Uruguay, sampai yang pernah saya saksikan langsung, PSV Eindhoven atau Feyenoord. Dua klub Inggris Stoke City dan Queen’s Park Rangers, Brno (Ceko), Kristiansand (Norwegia), Ebsbjerg (Denmark) juga pernah datang.

Saya akhirnya ingat ketika di bulan Juni 1983, Arsenal melawat ke Indonesia. Reputasi klub elite London kala itu belum senyaring sekarang. Di Inggris saat itu adalah eranya Liverpool, Nottingham Forest atau Aston Villa, yang salah satu bintangnya kini menjadi pelatih nasional Indonesia.

Siapa lagi kalau bukan Peter Withe. Saya sendiri masih ingat gol tunggalnya ke gawang Bayern Muenchen mengantarkan klub asal Birmingham meraih trofi Piala Champion 1981/82.

The Gunners, datang dengan diperkuat kiper legendaris Pat Jennings, dua pemain nasional Inggris Kenny Sansom, dan Graham Rix serta si legenda hidup David O’Leary, datang ke negeri khatulistiwa dengan tujuan utama berlibur ke Bali.

Mereka menang 3-0 atas PSMS Plus di Medan, 5-0 atas PSSI Selection di Senayan, namun yang terjadi kemudian, tepatnya pada 17 Juni 1983 saat lawan juara Galatama, Niac Mitra di Surabaya, sungguh membelalakkan mata. Arsenal kalah 0-2! Ini jauh lebih hebat dari Marzuki Nyak Mad cs. saat menahan PSV dengan Eric Gerets dan Ruud Gullit-nya 3-3 di Senayan.

Menurut Kompas waktu itu, banyak yang mencibir kekalahan Arsenal sengaja dibuat. Salah satunya lantaran mainnya jam 2 siang! Atau diusirnya Alan Sunderland oleh wasit Ruslan Hatta. Publik Stadion 10 Nopember menyebut dua pemain Singapura, kiper David Lee dan Fandi Ahmad, sebagai pahlawan kota pahlawan.

Fandi, yang usai membela Niac Mitra ditransfer ke Groningen, membuat gol di menit 37, sebelum ditutup Joko Malis di menit 85. Jangan kan Persija yang kalah dari Persebaya di partai pamungkas Liga Indonesia belum lama ini, Inggris saja selalu menderita di Surabaya. November 1945, komandan perang Brigjen Mallaby tewas terbunuh oleh para pejuang dalam “Battle of Soerabaia”. Lalu Juni 1983 giliran Arsenal yang dibekap Niac Mitra.

Kalau begitu ada baiknya, PSSI menetapkan saja Stadion 10 Nopember sebagai “Wembley-nya” tim nasional untuk partai internasional.

Data dan fakta :
Niac Mitra VS Arsenal (2:0)
tanggal : 16 Juni 1983
Stadion 10 November, Surabaya
pencetak gol: Fandi Ahmad 37, Joko Malis 85

Susunan Pemain:
Niac Mitra : David Lee, Budi Aswin, Wayan Diana, Tommy Latuperissa, Yudi Suryata, Rudy Kelces, Rae Bawa/Yusul Male, Joko Malis, Hamid Asnan/Syamsul Arifin, Fandi Ahmad, Dullah Rahim/Yance Lilipaly

Arsenal : Pat Jennings, Colin Hill/Stewart Robson, David O’Leary, Chris Whyte/Lee Chapman, Kenny Samson, Brian Talbot, Alan Sunderland, Paul Davis, Brian McDermott, Raphael Meade/Terry Lee, Graham Rix

Berikut foto-fotonya









Hebatt, Mainan Dan Barang yang Terbuat dari Sampah












Cool,,Rumah Unik Diatas Becak


Creative House on Wheel - 7 Pics





Creative Design of these House on Wheel - 7 Pics



Woww,Dinding yang Terbuat Dari Keyboard (Full Pic)


Banyak cara untuk menghias dinding yang membosankan dengan beraneka dekorasi. Mudahnya pakai saja wallpaper, dinding kusam bisa disulap dengan berbagai gambar. Namun jika ingin yang tidak biasa, anda musti belajar ke Sarah Frost. Lihat karyanya baik-baik, yup benar dinding-dinding tersebut di lapisi oleh ribuan papan ketik (keyboard) bekas. Beberapa karyanya dinamakan Debris dan Qwerty.
6 both2 Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys

5 both Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
2 w pillars Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
4 debris Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
9 debris Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
Lebih dekat lagi....
10 debris close up Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
wall1 Copy Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
8 qwerty close up2 Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
7 built close up Giant Walls Made from Thousands of Old Keyboard Keys
Agar lebih artistik Frost menambahkan tombol keyboard putih dan hitam, mungkin bisa di kreasi lagi ya misalkan membentuk tulisan atau logo atau malah lukisan.

Cek TKPnya : http://menujuhijau.blogspot.com/2011/04/dinding-yang-terbuat-dari-keyboard-full.html#ixzzBca4ANLhJ

10 Temuan Terlalu Canggih di Zamannya


Digital Audio Player (1979) jadi MP3 Player/iPod (1997/2001)

Pada 1979, Kane Kramer dari Inggris memiliki ide pemutar musik solid seukuran saku. Kramer menyebutnya IXI System dan ukurannya hampir sebesar kotak rokok. Menurut situs Kramer, Kramer dan rekannya membuat lima perangkat ini. Sistem buatan Kramer hanya mampu memutar musik selama tiga setengah menit.
Namun, ia berencana menggunakan memori flash untuk memperpanjangnya. Menurut Wired, bahkan Kramer berencana membuat toko musik untuk mengunduh musik baru. Pengajuan hak Kramer gagal pada 1998, di titik itu teknologi ini menjadi properti publik. IXI dan toko musik digital itu kini berubah menjadi iPod dan toko iTunes. Apple sendiri mengakui peran Kramer dalam kreasi iPod.

Analytical Engine (1822) jadi Komputer (1940)

Dalam upaya menciptakan mesin penghitung matematika tanpa kesalahan, Charles Babbage menciptakan pendahulu komputer modern. Mesin analitik Babbage merupakan perangkat komputasi umum pertama yang mampu menyelesaikan jenis-jenis perhitungan berbeda. Menariknya, mesin in dibuat di saat elektronik belum muncul. Babbage terus mengembangkan mesin analitiknya hingga meninggal di 1871.

Lensa Kontak (1632) jadi Lensa Kontak (1887/1950)

Pada 1632, Rene Descartes mengusulkan parangkat untuk mengkoreksi visi. Metode ini menggunakan tuba kaca berisi cairan yang diletakkan langsung pada mata. Sayangnya, pemakai ‘lensa’ ini tak akan bisa berkedip.

Pada 1887, optalmolog Jerman Adolf Eugen Fick menciptakan lensa kontak sukses pertama dari kaca. Lensa ini hanya bisa dipakai selama beberapa jam dan akhirnya ahli kimia Otto Wichterle berhasil membuat lensa kontak lembek dari plastik. Kini, lensa kontak ini dipakai jutaan orang di dunia.

Colorfax (1947) jadi Color Printer (1990)

Saat pertama muncul di Popular Science, colorfax dijuluki mesin yang ‘membuka dunia baru bagi rumah dan pebisnis’. Mesin ini mampu menggambar dengan warna merah, biru, kuning dan hitam dan membutuhkan sekitar 15 menit untuk mencetap tiap gambar. Printer masa kini menjadi suatu kewajiban di banyak kantor.

Photovoltaic Cell (1883) jadi Sel Surya (1945)

Pada 1883, Charles Fritts mengembangkan sel surya pertama setelah menyelimuti selenium semi konduktor dengan lapisan tipis emas. Sayangnya, perangkat ini tak efektif, efisiensinya hanya 1%. Pada 1945, peneliti di Bell Laboratories berhasil memperbaharuinya dengan melakukan efisiensi. Sejak itu, sel surya dipakai pada satelit luar angkasa dan benda kecil seperti kalkulator dan jam.

Sinar Panas (212 Sebelum Masehi (SM)) jadi Senapan Sinar Panas (2007)

Militer Amerika Serikat (AS) mengungkap Active Denial System empat tahun lalu. Sistem ini memproyeksikan sinar energi tinggi transparan yang bisa menimbulkan perasaan terbakar tiba-tiba. Militer mengatakan, senapan sinar panas ini tak berbahaya dan bisa digunakan untuk menghalau keramaian.
Berbeda, sinar panas asli pada masa Syrause di 212 SM digunakan untuk membakar kapal musuh. Archimedes membuat perangkat ini untuk membakar kapal perang Roma. Selain itu, banyak pihak membuktikan, sangat mungkin membakar kapal Roma menggunakan sinar panas ini.

Aeolopile/Automata (abad pertama) jadi Mesin Uap (1698/1954)

Mesin uap dikreditkan sebagai salah satu ciptaan paling penting dalam revolusi industri. Kapal uap dan lokomotif memungkinkan terjadinya transportasi yang lebih cepat antar negara atau samudra. Sementara James Watt menjadi pencipta mesin uap, aplikasi pertamanya muncul berabad-abad sebelum ia lahir.
Ahli matematika Yunani Hero dari Alexandria menggambarkan sebuah alat bernama Aeolopile, alat pertama yang menerapkan uap pada gerak putar. Alat ini memiliki bulatan kosong di atas tungku air, jadi ketika air mendidih, uap melewatinya dan membuat bulatan di dalamnya berputar. Menurut Encyclopedia Britannica, Hero menggunakan proses serupa untuk membuat pintu yang bisa terbuka otomatis.

Watch-Case Phonograph (WCP, 1936) jadi Walkman (1979)

WCP digambarkan sebagai pemutar musik mungil. Miniatur fonograf ini biasa terdapat dalam jam tangan. Untuk mendengarnya, cukup mendekatkan WCP pada telinga. Sayangnya, rancangan WCP tak efektif. Pada 1970, pengembang Sony Walkman membuat konsep keseluruhan perangkat portabel ini dengan musik pra-rekam di dalamnya.

Kendaraan Tenaga Uap (1769) jadi Mobil Tenaga Gas (1886)

Sementara Nicholas-Joseph Cugnot dari militer Austria menggambar alat untuk menarik artileri, kendaraan tenaga uap dianggap sebagai mobil pertama dunia. Mobil ini memiliki tiga roda dengan satu roda depan berfungsi sebagai pengarah. Setelah itu, Cugnot membuat versi lebih besar, kuat dan cepat dan selesai pada 1771.

Sayangnya, menurut MadeHow.com, Menteri Etienne Francois de Choiseul tak tertarik. Kemudian, kendaraan itu dipindah ke National des Arts et Metiers di Paris dan dipajang di sana sejak itu.

Mesin Penjual (abad pertama) jadi Mesin Penjual (1880)

Mesin penjual ini dapat ditemui di sekolah, bandara dan kebanyakan gedung. Saat ini, mesin ini sedang dalam debat kesehatan. Hal mengejutkan, mesin ini telah ada sejak abad pertama dan digunakan untuk menyalurkan air suci di kuil Yunani Kuno.

Menurut Smithsonia Institution, ketika seseorang memasukkan koin, koin mengenai panel dan panel membuat air keluar. Sistem ini juga dipakai pada mesin penjual yang dikembangkan pada 1880 hingga akhirnya listrik mengambil alih tugas itu.


Sejarah Asal Mula Nasi Kucing


Makan adalah soal cara. Kita semua menyebutnya sebagai nasi. Namun ketika ia dimasukkan dalam bambu dan dibakar, kita menyebutnya nasi bakar. Bila ia dibungkus daun jati, Orang Cirebon menyebutnya nasi jamblang. Dibungkus selagi hangat dengan daun pisang muda lain lagi namanya: nasi timbel. Dibungkus sejumput-kecil di Bali disebut nasi jinggo. Di Tegal orang bilang nasi ponggol, di Kudus orang menyebut Nasi Gandul, di Pekalongan di sebut Nasi Megono. Lain lagi Wong Solo, Wong Jogja dan Wong Klaten, inilah yang populer sebagai Nasi Kucing.

Nasi kucing bisa kita dibeli di sepanjang jalan di Solo dan Jogja. Di sudut-sudut gang, setiap ada keramaian tak pelak lagi, mereka pasti sedang lek-lekan, keplek ilat menyantap nasi kucing—hati-hati, karena sebagian lagi tak menyantap nasi kucing tapi Ciu Bekonang. Di Solo nasi kucing dijual di hik, sedang bila di Jogja dijajakan di gerobak Angkringan. Bentuknya sama: nasi sekepal dibungkus daun pisang dengan lauk sambal bandeng atau oseng tempe. Dijual dalam gerobak yang mangkal di tempat-tempat strategis. Selain gerobak penjual menyediakan satu kursi panjang di depannya.

Nasi Kucing (Sego Kucing)

Kita dapat makan secara swalayan. Di sudut kanan gerobak ada perapian, untuk menjerang tiga teko. Satu berisi air putih, satu berisi wedang jahe, satu lagi berisi teh kental—karena itu sebagian orang menyebut ‘Cafe Ceret Telu’. Di sebelah perapian dihamparkan macam-macam lauk dan jajanan: tempe dan tahu goreng, tempe dan tahu bacem, macam-macam sate semenjak sate usus, sate telur puyuh bacem, sate keong, sate kulit, sate (tempe) gembus, dan sate gajih sandung lamur.

Nasi Kucing

Masih ada jajanan: lentho, timus, combro—tanpa oncom, dan peyek. Kemudian paling kiri ditata nasi kucing bertumpuk rapi. Anda perlu sedikit jeli, karena ada sejumlah pedagang hik yang menyediakan didih—darah yang dibekukan dan digoreng. Tak perlu khawatir, di Solo toleransi ummat cukup tinggi—di samping pengonsumsi didih memang cukup banyak. Meski di jalan-jalan di jual rica-rica dan sate jamu—sate babi, tak pernah ada masalah. Anda cukup mengetahui mana yang boleh dimakan. Penjual tak memaksa dan tak bermaksud menjebak.

Tak perlu khawatir kursi bangku tak dapat memuat pengunjung. Karena pedagang nasi kucing telah menyediakan berlembar-lembar tikar di sebelah gerobak. Bila angkringan mangkal di mulut gang, maka anda dapat makan di pinggir jalan. Benar-benar di pinggir jalan, sehingga pejalan kaki hanya berjarak satu-dua meter dari nasi kucing yang sedang anda buka. Sebagian pembeli bahkan tak suka duduk di kursi angkringan. Mereka lebih suka duduk di tikar. Menghabiskan malam dengan bercengkerama dengan kawan-kawan. Makanya, makan nasi kucing kurang dari tiga peserta tak afdol. Bersama lima orang dianjurkan.

Lalu, mengapa nasi kucing, hik, dan angkringan? Ini ada ceritanya. Disebut nasi kucing karena porsi dan lauknya persis seperti kita akan memberi makan kucing di rumah. Lalu hik. Suku kata yang unik karena tak ada dalam kamus bahasa jawa, dan hebatnya lagi, tak ada artinya yang pasti. Sebagian mengartikan hik sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Saya katakan pada anda: jangan percaya pada tesis ini. Makna hik paling kuat yang saya dapat bersumber dari sejarah panjang tradisi kuliner ini.

Idiom hik bersumber dari lagu rakyat yang dinyanyikan pada malem selikuran, tanggal 21 bulan puasa pada zaman Susuhunan Paku Buwono X: ting-ting hik, jadah, jenang, wajik, ojo lali tinge kobong (lampu-lampu minyak hik, jadah, jenang, wajik (nama-nama jajanan pasar—mpep), jangan lupa lampunya terbakar—mpep). Lagu ini memiliki makna religius yang dalam, penuh perlambang.

Ting adalah lambang dari riwayat Kanjeng Nabi Muhammad SAW setelah turun dari Jabal Nur di malam Lailatul Qadar. Nabi disambut gembira oleh sahabat dengan menyalakan obor di mana-mana. Jadah, jenang, wajik merupakan jajanan pasar yang enak melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Sedang ojo lali tinge kobong memiliki makna mengingatkan akan bahaya kebakaran. Hik sendiri tidak memiliki makna religius apa-apa. Ia menjadi identitas penjual warung angkringan yang semula menjajakan makanannya dengan berkeliling kampung mendorong gerobak memikul tenong (trims Mas Santo koreksinya–mpep) sambil berteriak hiiiikk…hiiikk….

Dalam perkembangannya pedagang hik tidak lagi menjajakan dagangannya tetapi menetap di suatu tempat-tempat yang biasanya strategis dan ramai. Penjual nasi kucing yang dianggap pionir dalam sejumlah literatur sebagai penjual nasi kucing yang mangkal adalah Pak Man. Pak Man biasa mangkal di dekat Stasiun Tugu Jogja. Hingga kini angkringan Pak Man—yang diganti anaknya Lik Man—masih ramai dikunjungi orang. Menu istimewanya kopi jos. Kopi kental manis yang diberi arang membara. Joss…

Menurut penelitian mahasiswa UGM yang terinspirasi karena menjadi pelanggan setia Lik Man, arang ternyata berfungsi menyerap kafein dari kopi. Sehingga kopi jos direkomendasikan baik untuk kesehatan. Meski demikian, seorang teman saya, seorang dokter sama sekali tak menyarankan untuk mencicipi kopi yang diberi arang. Soalnya arang kabarnya bersifat karsinogen. Sekarang, semua terserah anda.

Lalu di Jogja disebut angkringan karena demikian egaliternya warung rakyat ini pengunjung dapat meng-angkring-kan kakinya (mengangkat kakinya sambil duduk di kursi). Ukuran kesopanan di warung angkringan adalah tenggang rasa dan tepa selira dengan sesama pengunjung lainnya. Istilah angkringan lebih banyak digunakan di daerah Jogja. Sedang hik digunakan di daerah Solo meskipun bentuk, dan karakteristiknya sama persis.

Pada awalnya nasi kucing hanya dijual di wilayah Solo dan Jogja. Karena cukup bersahabat dengan kocek mahasiswa, nasi kucing merambah hingga ke Salatiga dan Semarang yang tak punya tradisi hik dan angkringan. Nasi kucing juga dapat anda temukan di Purwokerto. Nasi kucing memang makanan anak kos. Di masa-masa krismon saat Reformasi 1998, banyak mahasiswa yang disambung hidupnya dari dua pincuk nasi kucing. Namun nasi kucing tak identik mahasiswa.

Brosur Nasi Kucing
Kini nasi kucing telah menyebar di seantero Jawa Tengah. Semenjak Solo ke timur hingga Ngawi, dan Magetan. Dari Jogja ke barat melintasi Purworejo, Kebumen, Purbalingga, hingga Tegal.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...